Seandainya

Seandainya apa yang telah terpikir bisa dengan mudah terucap
Seandainya apa yang menjadi tanya bisa dengan cepat terungkap
Tidak perlu bibir terkatup, tidak perlu menulikan telinga
Tidak perlu pula mata berpaling ke sudut terluas di ruangan gelap ini

Seandainya gelap bisa dengan mudah berubah terang
Seandainya bosan bisa dengan cepat berubah riang
Tak mungkin ada rasa yang bertanya-tanya
Tak mungkin ada hati yang mesti berduka

Apa hanya satu nama yang merasakannya?
Satu nama yang merasa tak berarti dengan pengabaian
Satu nama yang merasa tak berguna dengan ketidakpastian
Namun masih tetap menunggu sekalipun diliputi tanda tanya

Rizky Januardi Satria

Iklan

Rindu Ini

Rindu ini yang kian mengarang
Tak berdaya diterpa kata membuat berang
Bersama gusar dalam setiap hembusan napas
Dibantai jarak tergeletak lemas

Rindu ini yang kian membatu
Berselimut malam gigil yang membeku
Menghardik langkah untuk berlari
Tetap tak berubah, tetap disini

Tak bisa jelaskan apapun
Tanpa menatap mata teranggun
Tak bisa tunjukan apapun
Tanpa tahu apa mimik tak melamun

Rindu ini yang kian buta
Tidak hanya dimiliki kamu semata

Rindu ini yang kian padu
Menunggu saat-saat tatap beradu

Rindu ini yang kian alam
Seperti tak bisa menatap samudra terdalam

Rindu ini yang kian sejati
Apa yang terasa takkan pernah mati

 

 

Rizky Januardi Satria

Karena Rindu Yang Akan Menguatkan Kita

Langit berwarna mendung menatap kita dengan senyuman.
Pertemuan kita seakan sudah direncanakan sangat manis oleh Tuhan.
Aku bergetar dengan senyum dari kamu yang pemalu.
Seakan aku dihantam keras tepat di hatiku.
Waktu semakin berjalan sampai kita merasa hidup ini bagai alunan sebuah melodi.
Melodi-melodi indah paduan suara dalam sebuah orkestra.

Ah, aku kembali rindu pada saat kita bertemu.
Aku mengingat segala hal manis tentang kita berdua saat kita bertemu.
Saat kamu tersenyum, saat kamu tertawa, saat kamu merengek kesal karena candaku.
Bahkan, aku masih ingat saat kamu tertidur pulas pada bahuku dengan pinggangku yang terpeluk oleh tangan mungilmu.
Aku merasakan tempat ternyaman.
Iya, aku nyaman saat berada dalam pelukanmu.
Tempat yang menjadi tujuan saat aku pulang, dan menikmati segala kebahagiaan yang terpancar dari raut wajahmu.

Kini,
Aku tak lagi menghirup udara di kota yang sama denganmu.
Jarak dan tujuan hidupku yang harus memisahkan kita.
Kita hanya bisa berjanji, janji yang terus mengikat kita pada hari dimana kita bertemu kembali.
Hari yang akan selalu kita rindukan.
Ketika aku kembali pada tempat ternyamanku yang terus selalu kau jaga.
Hari dimana semuanya terasa indah.

Kita tidak akan terbunuh oleh jarak.
Karena keyakinan kita yang akan menyelamatkannya.
Kita tidak akan mati karena menunggu waktu.
Karena rindu yang akan menguatkannya.
Nona, percayalah dengan apa yang kita jalani.
Bersabarlah, Nona.
Akan ada hari dimana indah akan menjadi lebih saat kita bisa melewati semuanya bersama.
Aku disini akan terus merapikan hatiku menjadi susunan rapi membentuk namamu.
Agar aku menjadi yag baik untukmu.
Nona, lakukanlah hal yang sama untukku.
Aku yang berharap banyak padamu.

Aku disini, yang selalu menyayangimu.

Kerinduan

Aku merenung di hening malam
Menatap sendu langit yang kian kelam
Melihat bayanganmu di ujung kerinduan
Terdiam terpaku meyakinkan perasaan

Rindu ini tiada bertepi
Seperti berlari tak kenal henti
Mengagumi kamu yang ada disana
Tanpa daya raga tak bisa bersapa

Jauh jarak diantara kita
Menunggu takdir dipertemukan cinta
Bertahan tanpa menyerah menyimpul asa
Yakin jika kita bisa bersama

Tak bisa menyalahkan keadaan
Tak bisa juga menolak perasaan
Cinta itu datang tanpa beban
Memeluk kita yang selalu penuh harapan

Terlalu jauh aku merindu
Rindu yang tersirat hanya untukmu
Dan menanti saatnya tiba
Ketika kita bertatap mata, kita terpeluk dalam tangis bahagia

Diam Aku

Diam Aku….

aku terdiam dalam sebuah penantian
di temani lembutnya belaian malam
bertanya-tanya adakah darinya jawaban
di sudut hening ku coba bertahan

tak bisa ku katakan tentang sebuah kejujuran
hanya karna takut akan sebuah kenyataan
tak bisa ku sembunyikan perasaan
tapi aku takut jika nanti kehilangan

diam.. diam.. dan diam..
hanya itu yang bisa kulakukan
tanpa ada yang bisa kukatakan
hey.. apakah kau tau arti kata sayang ?
perasaan itu hanya untuk kamu sekarang

dan pada akhirnya kamu tahu
tapi kenyataan tetap tidak ku beritahu
bukan untuk menghindar
tapi untuk yakinkan perasaan ini benar

kelak aku ingin kau tahu semua
harapan aku untuk kita selalu bersama
sekarang tak ada yang tahu di dunia
bahwa kamu yang akan ku cinta.. selamanya…

Kamu adalah Anugerah

Saat denting waktu terus mengalun
Saat tiupan angin terus berdesir
Aku terdiam, aku tertegun
Menanti yang lama kunanti

Kini, kau hadir kembali
Menghapus sendu berhari-hari
Tak ingin rasanya melewati hari, tanpa kamu disini
Dan benar, ini bukan mimpi

Kamu adalah anugerah
Yang datang saat hati sedang gundah
Kamu adalah anugerah
Perasaan sayang padamu tak pernah salah

Aku milikmu, dan kamu milikku
Takkan pernah ada ragu tentangmu
Takkan pernah ada niat meninggalkanmu
Karena aku sayang kamu
Karena kamu adalah anugerah untukku

Cerpen gue

Cinta Geduubraakkzzz

Karya : Rizky Januardi Satria
( XII IPA 4 / SMAN 113 Jakarta, angkatan 17 )

 

 

Hari ini matahari lagi gak bisa diajak kompromi, di sekolahku panasnya bener-bener abnormal. Hawanya panas banget padahal waktu baru menunjukan pukul 09.45 WIB. Aku adalah Satria, cowok yang masih sekolah kelas XII di salah satu SMA di Jakarta. Sebenernya bosen juga sekolah gak ada sesuatu yang menarik buat di jalanin, tetapi itu semua akan sedikit berubah dan akan berawal dari sini. Tampak 2 orang remaja sedang asik berbincang di sudut kelas yang sibuk dengan handphonenya masing-masing. Aku dan sahabatku Asta.
“astaghfirulloohhh !! panas banget sihh nih hari ?!” ujar ku.”mana laper bin aus pula.”tambahku.
“yaelah namanya juga puasa pasti laper cuy, dah sabar aja,” timpal Asta.
“iya-iyaa,” balas ku “lagi ngapain lu ?”
“gue lagi OL friendster nih, lu gak OL?”Tanya Asta.
“nih juga lagi OL, bête nih gagk ada yang kirim comment.”ujar ku.
“sama gue juga sepi banget, dah kita ke luar ajah yuk?”ajak Asta. “daripada disini kita berduaan doang kaya orang bego gak ada yang ngajak ngobrol.”
“siapa juga yang mau ngobrol ama elu.” ledek ku.
“sialan lu, dah ayok di luar rame ada Ferry ama Ryan juga tuh.” ajak Asta.
“yaudah yuk.” jawab ku

Kami pun bergabung dengan teman-teman yang lain untuk bersenda-gurau. Saat bulan puasa memang kantin sekolah tidak ada yang buka, oleh karena itu anak-anak biasa menghabiskan waktu istirahat mereka dengan bercanda, bernyanyi, mendengarkan musik, d.l.l. namun anak-anak sekolah lebih banyak yang ngobrol dari pada yang pergi ke masjid, tapi nggak dengan anak Rohis. Mereka biasanya sholat dhuha buat nambahin pahala puasa Ramadhannya, tapi selain anak rohis banyak juga yang jadiin moment bulan Ramadhan buat sholat dhuha.

Kriiiing… kriiiing… kriiiiiiiiiing…

Bel pulang sekolah telah berbunyi, seperti biasa Aku, Asta, Ferry, dan Ryan pulang bersama karena kami pulang dengan jalan yang searah, kebetulan juga kita satu kelas jadi kalau ada tugas kelompok kami biasa mengerjakannya bersama di rumah Asta. Kami berempat berkumpul di parkiran sepeda motor yang terletak di pinggir lapangan upacara sambil mendiskusikan sesuatu.

“jadinya kemana nih ?” tanya Ferry.
“gue sih terserah yang lain, lu gimana Sat ?” ujar Ryan.
“mending kita pulang kerumah masing-masing, ngantuk banget nih gue.” ujarku malas.
“yah gak asik banget sih lu, udah main PS aja di rumah si Asta mumpung gratis, hehehe.” ujar Ryan.
“iyaa Sat main PS aja di rumah gue, gak ada siapa-siapa kok.” tambah Asta.
“nah tuh gue mau.” potong Ferry semangat.
“yee lu mah emang gak bisa liat barang gratisan.” ujar ku.
“hahahahaha,” tawa kami serempak.
“kan lumayan dari pada main di rental mesti bayar.” bela Ferry. “lagian lu ngapain sih di rumah tidur, pamali cuy puasa-puasa kebanyakan tidur.” tambah Ferry.
“kan tidurnya orang puasa ibadah.” celetuk ku sambil nyengir.
“kalo lu tidur mulu mah jatohnya jadi kebiasaan Sat, hahaha.” canda Asta.
“yaudah lu tidur di rumah Asta aja nanti, beres kan ?” potong Ryan.
“yaudah lah,” jawab ku pasrah.
“braaangkaaaattt !!” seru yang lain.

Baca lebih lanjut