Monolog Bersama Hujan (I)

Ketika pandir datang hanya untuk mengolok-olok apa yang sedang terjadi, aku hanya duduk bersandar pada tembok berwarna pudar, mendongakan kepala, menatap kepulan asap bakar tembakau yang aku embuskan pelan melalui mulutku, kemudian hilang bersamaan terbawa embusan angin yang aku tak tahu arah datangnya, mungkin Tenggara.

Hujan datang hampir setiap hari, mungkin bermaksud menghiburku, hujan sangat tahu bahwa aku suka sekali mencium aroma tanah kering yang terkena tetesan hujan dideras pertamanya. Iya, aromanya sangat khas dan menenangkan. Entah pesan apa yang dibawa hujan, aku tak begitu memperhatikannya. Aku masih sibuk isapan tembakau yang ku bakar hingga penuh di dalam dada hingga merata, lalu ku embuskan lagi asap itu hingga membuat kepulan tebal berwarna putih, terus mengulang hal yang sama, sambil sesekali menengok ke kejauhan. Kosong.

Petir datang tiba-tiba, buyarkan tatapan kosong yang sedari tadi membuat mataku tak berkedip. Seperti datang dengan setumpuk amarah yang membuatku tertampar dengan keras. Aku tak mengerti apa yang dia katakan, terus saja mencaci, bahkan sambil sesekali terus menyudutkan aku tentang segala hal yang pernah terjadi di masa lalu. Aku tak ambil pusing, aku kemudian bangkit dari tempatku terduduk. Berjalan meninggalkan petir yang masih menyimpan banyak kata yang sudah dia hapalkan untuk menjejal telingaku dengan cacian dan alasannya, dan hujan, yang masih setia dan akan datang kembali esok hari, membawa aroma favoritku saat derasnya yang pertama.

 

Aku berbalik menuju ruangku, dengan terisak, menahan sesak, mencoba berontak, aku jatuh tergeletak. Jangan katakan pada siapapun jika aku sedang menangis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s