Pilpres 2014: Kampanye atau Perang?

Kali ini gue coba posting yang rada berbobot deh, entah dari segi sebelah mana bobotnya.

9 Juli 2014 akan menjadi sejarah baru negara Republik Indonesia, 2 pasang capres dan cawapres saling berebut menjadi penunggang mobil mewah berplat nomor RI 1 dan RI 2. Memegang jabatan tertinggi di Indonesia, mengatur segala seluk-beluk dunia ekonomi, pendidikan, pemerintahan, dll.

pilpres-2014

Gue mencoba menulis beberapa keresahan gue yang gue rasa terkait dengan pilpres 2014 kali ini, yang gue rasa sekarang semacam bukan kampanye sportif dan elegan. Entah apa yang disusun oleh para tim sukses dari para capres dan cawapres yang diusung, para timses yang terkait ini menurut gue bukan seperti kampanye melainkan sebagai perang. Perang yang bisa dibilang mejatuhkan capres dan cawapres lain di mata masyarakat, baik yang sudah mengerti tentang apa itu politik dan seluk-beluknya maupun orang awam yang belum benar-benar mengerti siapa yang bakal menjadi presiden yang akan memimpin negara mereka kelak.

Keresahan ini mungkin gue bagi jadi beberapa poin yang sesungguhnya menurut gue bukan sebagai kampanye, melainkan sebagai perang. Perang media, media yang dikuasai oleh beberapa pemilik partai politik pengusung capres tertentu bahkan orang-orang yang mendadak jadi pengamat politik.

1. Simpatisan & pengamat politik dadakan

Banyak beberapa orang pengguna sosial media baik Twitter, Facebook, Path, Blog dll yang tiba-tiba jadi pengamat politik dadakan yang sok tahu. Iya, gue rasa mereka juga gak ngerti tentang perjalanan karir para capres dan cawapres yang mencalonkan diri sebagai presiden dan wakil presiden nantinya. Mereka hanya mendengar dan membaca tentang keburukan capres lain dan membaca kebaikan dari capres yang mereka jagokan, sehingga tak jarang banyak terjadi perang di sosial media antar sesama simpatisan atau pengamat politik dadakan.

Tahun ini lebih dari 10 juta orang menjadi pemilih baru atau perdana kali bisa ikut pemilu, para timses sepertinya pandai betul melihat banyak sekali suara yang nantinya bisa mereka peroleh dari para pemilih awam ini. Dan beberapa diantara pemilih baru ini sepertinya merasa punya hak untuk memilih dan sebagai warga negara yang baik seharusnya tidak golput atau menjadi golongan putih yang tidak memilih atau abstain. Jadi mereka berusaha benar-benar memilih yang menurut mereka baik, tapi sayangnya info yang diberikan para tim sukses para pengusung capres ini seakan menjejali para pemilih baru ini tentang keburukan capres lain yang menjadi oposisi dari kubu mereka. Dan akhirnya, para simpatisan dan pengamat politik dadakan ini mulai perang di sosial media tentang capres dan cawapres. Kampanye atau perang?

2. Media yang tidak netral

Baik media cetak maupun elektronik adalah senjata paling ampuh selain media sosial di dunia maya yang bisa dengan mudah membentuk opini publik secara langsung dan cepat. Hampir semua masyarakat Indonesia menonton televisi dan televisi adalah hal yang paling mudah untuk dicerna baik secara visual maupun verbal. Media televisi sekarang sudah banyak dimiliki oleh beberapa aktivis politik dari berbagai partai di Indonesia. Jujur saja yang saya rasakan semenjak mengikuti pemilu baik ikut serta dalam pemilihan umum tersebut ataupun hanya menjadi penonton pemilihan itu berlangsung karena saya belum cukup umur untuk ikut dalam pemilihan umum tersebut, baru di tahun ini rasanya para pihak stasiun TV mulai gencar menampilkan sisi buruk dari capres dan cawapres lain mengenai keburukan dari kubu oposisi partai yang diusung.

Akhirnya dengan mudah opini masyarakat terbentuk, banyak dari mereka yang akhirnya menjadi pengamat politik dadakan. Iya, mereka hanya dijejali oleh opini yang dibentuk oleh stasiun TV yang menjadi pengusung capres dan cawapres tertentu. Seharusnya, jika pemilik stasiun TV bisa lebih bijak untuk menyaring berita yang akan ditayangkan dan dikonsumsi oleh masyarakat. Jangan mentang-mentang pemilik mereka adalah salah satu koalisi dari capres dan cawapres tertentu maka dengan mudahnya menayangkan berita yang akan membentuk opini masyarakat yang masih awam tentang figur dari capres dan cawapres yang akan maju dalam pilpres 2014 kali ini. Demi reputasi?

3. Tim pencari fakta atau tim Black Campaign terselebung?

Beberapa kali gue baca tentang artikel-artikel yang ditulis oleh orang-orang yang mungkin bisa dibilang pencari fakta tentang siapa sebenarnya sosok-sosok capres dan cawapres yang akan maju menjadi presiden mereka, dan gue juga sempat googling dan menemukan beberapa artikel yang menjadi kasus-kasus yang melibatkan para capres dan cawapres yang sedang berebut kursi pimpinan tertinggi di Indonesia. Dan gue mungkin menemukan beberapa fakta yang bisa gue ambil tentang siapa profil dan latar belakang capres tertentu, tapi yaa gue cukup tau aja dan gak mau ngumbar-ngumbar di sosial media karena gue gak mau ikutan buat jatuhin atau ikut-ikutan jadi pengamat politik dadakan.

Gue suka diskusi sama temen gue soal pilpres 2014 kali ini sama temen-temen gue secara langsung dan sekedar sharing, bukan menjatuhkan pilpres tertentu. Gue sama temen-temen gue bahkan gak tertarik sama isu-isu yang berkembang di media saat ini. Bagi gue dan temen-temen gue yang sepaham ini, media sekarang sama aja kayak orang-orang yang suka gosip di tukang sayur ngomongin orang lain yang kalo gak beli sayur.

——-

Itu aja sih yang masih ngerasa ngeganjel di diri gue tentang pilpres 2014 kali ini. Tahun 2004 adalah benar-benar murni masyarakat yang memilih capres dan cawapres mereka secara langsung, karena sebelumnya capres dan cawapres dipilih oleh anggota DPR dan MPR. Karena kita dikasih kesempatan langsung buat memilih presiden dan wakil presiden kita, sudah seharusnya kita bisa lebih bijak untuk menimbang berita yang terkait.

Sekali lagi gue tegaskan, gue disini mencoba untuk bersikap netral dan gak memihak salah satu kubu tertentu. Gue cuma mencoba buat mengungkapkan kegelisahan gue terkait tentang pilpres 2014 kali ini. Sudahi sajalah perang media secara terbuka, jujur ini membentuk opini publik yang gak banget.

Setiap capres dan cawapres punya kekurangan dan masing-masing terikat kasus, tapi bukan berarti kampanye untuk menjatuhkan capres dan cawapres lain. Kampanye itu adalah menjabarkan tentang visi dan misi para capres dan cawapres untuk memajukan negara kita. Yang nyalonin aja santai kok kena kasus, eh kok simpatisannya yang malah rusuh~

Think smart, guys!

Iklan

9 pemikiran pada “Pilpres 2014: Kampanye atau Perang?

  1. Superb!
    Nih, nih bener banget sekarang jadi banyak muncul pengamat politik karbitan. Ngerti juga gak tp koar-koarnya juara. Kalopun ngejagoin salah satu capres yawdalah ya simpen sendiri aja gak usah diumbar kesana kemari. Beda pilihan gak salah kok. Fanatik banget kayanya sampe mati-matian gitu belain capresnya. Semoga pemilu-pemilu selanjutnya gak ada lagi kampanye-kampanye model gini deh ya, Ky. Nice post!

  2. hahaha. bener nih. gua juga baca tuh ulasan dari para detektif dadakan. yang ngebongkar borok para capres.
    dan media tv emang parah banget beritanya. untunglah ada piala dunia. jadi ada sedikit hiburan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s