Yang Berawal dari Pertemuan

Berawal dari pertemuan pertama diselingi dengan rintik kecil air alam yang jatuh ke bumi disuatu pinggiran Kota Metropolitan. Aku disambut senyuman yang canggung dari seorang gadis bertudung biru muda yang terlihat sangat cantik dan selaras dengan kulitnya yang sawo matang.

Sepanjang perjalanan yang tertempuh jauh tak terasa dengan selingan canda yang aku lontarkan kepadanya yang duduk canggung di belakangku saat aku mengendarai sepeda motor yang ku laju tak begitu cepat karena aku masih ingin menikmati renyah tawa dan candanya yang begitu lepas terluap dibalik wajah manisnya yang tertunduk saat aku mengintip sedikit dari kaca spion sepeda motorku.

Kami menuju suatu pusat pebelanjaan yang berada di pinggir kota. Kami menuju sebuah tempat makan bernuansa Jepang. Banyak kesamaan yang ada diantara kami, salah satunya kegemaran kami pada makanan pedas, tentunya tingkat menikmati makanan pedasku jauh dibawah dia.

Selesai makan kami beranjak menuju tempat karaoke yang masih berada di lokasi pusat perbelanjaan yang sama. Aku pernah mendengar dia bernyanyi, tapi hanya sebatas sebuah rekaman yang dia kirim pada telepon selular ku. Dia memiliki suara yang berat namun tetap indah dan merdu untuk didengar, dan kali ini aku mendengarnya secara langsung. Ah, betapa sangat merindukan momen itu.

Candaan yang sering aku lontarkan dan beberapa kata motivasi yang mungkin dia perlukan, sekadar untuk menghiburnya yang aku tahu betul bahwa dalam hatinya mungkin dia sedang bersedih.

Beberapa hari setelah momen itu, aku kembali menemuinya. Kali ini aku mengantarkannya kuliah di sebuah Universitas di Jakarta dan menunggunya selesai kuliah hingga mengantarnya pulang. Sebut saja ini kencan kedua kami. Sungguh, semakin mengenalnya lebih dalam semakin aku berusaha meyakinkan diri bahwa perasaan apa yang aku miliki untuknya.

Aku tidak selamanya berada di kota yang sama dengannya. Aku harus kembali ke kota sementara aku singgah untuk kembali menyelesaikan urusan akademik yang harus aku selesaikan. Hubungan jarak jauh yang terjalin diantara kami memang terkadang sangat menyiksa dengan adanya rindu-rindu yang kian terkepul. Tapi kami yakin bahwa jarak ini tidak akan membunuh kita, karena rindulah yang akan menyelamatkannya.

Entah kapan perasaan yang kami miliki menjadi sama, dimana ada harapan-harapan untuk selalu menjaga dan menyayangi satu sama lain dimulai. Yang jelas kami berusaha untuk menikmati dan menghargai segala proses yang ada. Tak peduli apa masa lalu dari masing-masing kami, karena kami percaya bahwa tak akan menjadi kami yang sekarang tanpa adanya masa lalu yang membentuk kami menjadi pribadi yang sekarang.

Janji-janji yang selalu aku ucapkan untuk menyapanya kembali, dalam tatap mata yang saling beradu. Ketika kami dipisahkan jarak, kami bagai berada disebuah kamar gelap. Kami saling mendengar, namun tak bertatap. Suara-suara yang masih belum cukup sebagain penyembuh segala rindu yang membelenggu. Namun, doa-doa dan harap selalu menyertai hari ini yang hingga tiba dimana hari kita bertaut dalam dekap.

Dekap, seperti saat dimana aku menemukan tempat ternyamanku. Aku merasakan kenyamanan saat dia mendekap erat tubuhku, ketika aku melaju diatas sepeda motorku. Hingga tanpa terasa dia menemukan lelap saat wajahnya yang bersandar pada bahuku.

Disini aku jujur dengan apa yang kurasa, dengan segala apa yang kupunya. Dan dengan kesederhanaan ini aku menyayangi dia, sesederhana segala proses yang terjadi pada kami. Tentang segala perasaan dan segala sifat yang kita punya.

Teruntuk dia, yang aku sayangi tanpa cela.
Si gadis pemuja senja, Yuliana Bakti Pertiwi.

image

Salam

Rizky Januardi Satria

Iklan