Cerpen gue

Cinta Geduubraakkzzz

Karya : Rizky Januardi Satria
( XII IPA 4 / SMAN 113 Jakarta, angkatan 17 )

 

 

Hari ini matahari lagi gak bisa diajak kompromi, di sekolahku panasnya bener-bener abnormal. Hawanya panas banget padahal waktu baru menunjukan pukul 09.45 WIB. Aku adalah Satria, cowok yang masih sekolah kelas XII di salah satu SMA di Jakarta. Sebenernya bosen juga sekolah gak ada sesuatu yang menarik buat di jalanin, tetapi itu semua akan sedikit berubah dan akan berawal dari sini. Tampak 2 orang remaja sedang asik berbincang di sudut kelas yang sibuk dengan handphonenya masing-masing. Aku dan sahabatku Asta.
“astaghfirulloohhh !! panas banget sihh nih hari ?!” ujar ku.”mana laper bin aus pula.”tambahku.
“yaelah namanya juga puasa pasti laper cuy, dah sabar aja,” timpal Asta.
“iya-iyaa,” balas ku “lagi ngapain lu ?”
“gue lagi OL friendster nih, lu gak OL?”Tanya Asta.
“nih juga lagi OL, bête nih gagk ada yang kirim comment.”ujar ku.
“sama gue juga sepi banget, dah kita ke luar ajah yuk?”ajak Asta. “daripada disini kita berduaan doang kaya orang bego gak ada yang ngajak ngobrol.”
“siapa juga yang mau ngobrol ama elu.” ledek ku.
“sialan lu, dah ayok di luar rame ada Ferry ama Ryan juga tuh.” ajak Asta.
“yaudah yuk.” jawab ku

Kami pun bergabung dengan teman-teman yang lain untuk bersenda-gurau. Saat bulan puasa memang kantin sekolah tidak ada yang buka, oleh karena itu anak-anak biasa menghabiskan waktu istirahat mereka dengan bercanda, bernyanyi, mendengarkan musik, d.l.l. namun anak-anak sekolah lebih banyak yang ngobrol dari pada yang pergi ke masjid, tapi nggak dengan anak Rohis. Mereka biasanya sholat dhuha buat nambahin pahala puasa Ramadhannya, tapi selain anak rohis banyak juga yang jadiin moment bulan Ramadhan buat sholat dhuha.

Kriiiing… kriiiing… kriiiiiiiiiing…

Bel pulang sekolah telah berbunyi, seperti biasa Aku, Asta, Ferry, dan Ryan pulang bersama karena kami pulang dengan jalan yang searah, kebetulan juga kita satu kelas jadi kalau ada tugas kelompok kami biasa mengerjakannya bersama di rumah Asta. Kami berempat berkumpul di parkiran sepeda motor yang terletak di pinggir lapangan upacara sambil mendiskusikan sesuatu.

“jadinya kemana nih ?” tanya Ferry.
“gue sih terserah yang lain, lu gimana Sat ?” ujar Ryan.
“mending kita pulang kerumah masing-masing, ngantuk banget nih gue.” ujarku malas.
“yah gak asik banget sih lu, udah main PS aja di rumah si Asta mumpung gratis, hehehe.” ujar Ryan.
“iyaa Sat main PS aja di rumah gue, gak ada siapa-siapa kok.” tambah Asta.
“nah tuh gue mau.” potong Ferry semangat.
“yee lu mah emang gak bisa liat barang gratisan.” ujar ku.
“hahahahaha,” tawa kami serempak.
“kan lumayan dari pada main di rental mesti bayar.” bela Ferry. “lagian lu ngapain sih di rumah tidur, pamali cuy puasa-puasa kebanyakan tidur.” tambah Ferry.
“kan tidurnya orang puasa ibadah.” celetuk ku sambil nyengir.
“kalo lu tidur mulu mah jatohnya jadi kebiasaan Sat, hahaha.” canda Asta.
“yaudah lu tidur di rumah Asta aja nanti, beres kan ?” potong Ryan.
“yaudah lah,” jawab ku pasrah.
“braaangkaaaattt !!” seru yang lain.


Kami pulang dengan mengendarai motor kami masing-masing dengan kecepatan sedang sambil sesekali ngebut. Setelah perjalanan kurang lebih 25 menit dari sekolah melewati 9 tikungan ke kanan, 12 tikungan ke kiri, 5 kali jalanan lurus, 3 tanjakan, dan 1 turunan akhirnya kami berempat sampai dengan selamat di rumah Asta walaupun tadi sempet diomelin gara-gara mau nabrak ayam orang di tengah jalan. Sesampainya dirumah Asta, Ferry dan Ryan dengan sigap menyalakan tombol ON pada televisi dan PS2 milik Asta di kamar adiknya, sementara Asta pergi ke kamarnya untuk ganti baju, tinggal aku sendiri ngelamun gara-gara diperjalanan tadi ngebut-ngebut sekarang jadi gak jadi tidur di rumah Asta karena rasa ngantuk ku sudah hilang, tapi aku sedang tidak mood untuk bermain PS2. Aku meraih handphoneku kemudian kubuka aplikasi yang terdapat disitu, Opera Mini. Aku berniat untuk membuka friendster, salah satu layanan dari sebuah situs dimana kita bisa memperoleh banyak kenalan atau teman dari situs tersebut dengan membuat account atau menjadi membernya. Sesaat aku terdiam melihat sebuah nama dan comment yang terdapat pada friendster ku.

“loh inikan Devy ? temen les gue waktu SMP, kok commentnya pake yank-yank segala, dasar aneh,”gumam ku dalam hati sambil tersenyum. Kemudian aku balas comment dari dia dengan menggunakan kata “yank” juga dengan niat bercanda. Ku kirim comment tersebut dengan tawa kecil di bibirku dengan anggapan kami hanya bercanda. Tapi aku malah menjadi senang karena aku juga pertama-tama tidak tahu apa-apa.

Sore hari pun tiba aku bertiga pamit pulang setelah kami sholat dzuhur dan ashar berjamaah di rumah Asta, kebetulan rumah ku terletak paling jauh dari rumah mereka. Aku pulang dengan tergesa-gesa karena sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang di masjid-masjid seluruh Jakarta dan sekitarnya, ditelevisi juga pastinya. Aku tak sabar segera sampai ke rumah untuk mencicipi hidangan buka puasa sambil berharap mudah-mudahan bukan es teh manis dan gorengan lagi, boseeeen !! Kenyataannya es teh lagi… es teh lagi… setdaaahhh…

Keesokan harinya aku makin sering berbalas comment dengan Devy. Sebelumnya akan kuperkenalkan Devy, dia adalah teman les ku sewaktu SMP, aku akui dia memang cantik, aku sempat suka tetapi mungkin pada waktu itu hanya sebatas kagum karena dia gadis yang sangat pintar, kami berbeda SMP tapi pada saat mau ujian kelulusan SMP kami les bareng di tempat yang sama karena kebetulan rumah kami satu komplek dan les di komplek yang sama karena kebetulan tetanggaku merupakan guru les dan materi yang diajarkan waktu itu adalah Matematika dan Bahasa Inggris. Aku sudah tak pernah mendengar kabar tentang dia semenjak kami masuk SMA, dan kebetulan kami menjalin komunikasi kembali pada saat kelas XII ini itu juga dari friendster, jadi sekitar 2 tahun kami tak pernah bertemu padahal kami satu komplek, aneh kan ?

Akhirnya lewat comment itu aku dan dia bertukar nomor handphone, kami jadi sering SMS walaupun saat itu kami masih belum bertemu. Dan pertemuan pertama itu dimulai saat aku dimintai tolong oleh ibuku untuk membelikan kue untuk acara Ta’jil yang kebetulan hari ini giliran rumahku yang mengirim makanan Ta’jil untuk orang-orang yang berbuka puasa di masjid, lalu aku SMS dia untuk minta ditemani membeli kue dengan alasan aku tidak tahu kue apa yang harus aku beli dan memintanya memilihkan kue yang pantas untuk Ta’jil di masjid, dan betapa terkejutnya aku saat dia mengatakan bahwa dia bisa, karena dia juga ingin pergi keluar untuk membeli bensin dan Koran. Aku langsung lompat-lompat kegirangan seperti sedang ada pertunjukan topeng monyet. Saat aku siap ingin berangkat tiba-tiba Devy SMS dia menunda berangkat bareng denganku karena dia ingin berangkat jam 2, karena kami janji ingin berangkat jam setengah 2. Dengan kesal akhirnya aku berangkat lebih dulu untuk membeli bensin di SPBU yang letaknya lumayan jauh.setelah aku mengisi bensin kembali aku SMS dia untuk menanyakan apakah dia sudah berangkat atau belum. Dan ternyata dia baru mau berangkat, dengan segera aku mengendarai motorku dengan cepat menuju rumah dengan harapan aku bisa bertemu dia di jalan karena aku berjanji untuk menemaninya juga membeli bensin dan koran.

Akhirnya kami bertemu di depan komplek saat pertama aku melihat dia, aku hanya terdiam tanpa kata. Sosok yang sama, apa itu dia ? tapi sepertinya bukan, terlalu berbeda, terlalu. . . terlalu… cantik. Tapi itu memang dia, itu Devy.

“gila makin cakep ajah nih cewek.” gumamku dalam hati.
Aku menatapnya sambil melamun dan bengong seperti seorang anak authies yang baru belajar mengenal huruf baru, untung aja gak pake ngiler-ngiler.
“jadi berangkat gak nih ?”
Sepintas suara cempreng khas seperti anak kecil membuyarkan lamunanku.
“ehh i-iyak j-jadi jadi kok.” jawabku gagap
“yaudah yuk, temenin aku beli bensin dulu yah ?” pintanya.
“iyaa, duluan deh.” jawabku sambil tersenyum.

Kami berangkat mengendarai motor kami masing-masing dan diselingi dengan obrolan. Kami mengendarai motor berdampingan sehingga banyak mobil atau motor di belakang kami yang mengklakson kami berkali-kali, lalu kami menepi dan tertawa bersama, lalu melanjutkan perjalanan.

“kamu sekolah dimana sih Sat ?” tanya Devy padaku.
“gue sekolah di Vegaz, kalo lu dimana Dev ?” balasku.
“Vegaz itu 113 kan ? kalo aku di Lipan kamu tau kan ?” tanya dia lagi.

Aku merasa canggung saat dia berbicara “aku-kamu” sementara aku berbicara “gue-lu” karena aku tidak enak dengan dia aku ikuti sajalah seperti yang dia bicarakan.

“iyak, ohh kamu di 58, bukannya kamu mau masuk di 48 ?” tanyaku.
“waktu itu pas pertama-tama udah di 48, eeh berapa jam kemudian udah mental ke 58, hehehe.” Jawabnya sambil tertawa kecil.

Akhirnya kami sampai di SPBU di tempat tadi aku mengisi bensin, setelah mengisi bensin Devy mengajakku menemaninya pergi ke apotik dia ingin membeli vitamin. Namun setelah mengunjungi beberapa apotik sepertinya dia tidak menemukan apa yang dia cari dan beralih mencari koran, dan koran yang dia caripun ternyata sudah habis. Aku hanya tertawa melihat tingkahnya yang kebingungan, lucu sekali.
“vitamin gak dapet, koran udah abis gimana dong ?”ledekku.
“gak tau.” jawabnya singkat sambil cemberut.
“jadi nemenin aku beli kue gak ?” tanyaku.
“loh emang belum jadi beli ?” jawabnya heran.
“kan aku nungguin kamu dan mau nanya ama kamu, kue yang pantes buat Ta’jil yang kaya gimana.” jelasku.
“yaudah aku temenin deh.” balasnya.

Kamipun berangkat menuju sebuah warung sederhana tempat menjual kue-kue dan jajanan pasar, setelah beberapa lama kemudian akhirnya kami selesai dengan memilih beberapa kue yang akan aku berikan untuk makanan buka puasa di masjid dekat rumah ku, kamipun berniat untuk pulang ke rumah kami masing-masing. Namun saat ditengah perjalanan dia teringat untuk membeli mangga.

“Sat temenin aku beli mangga dulu yuk ?” kata Devy.
“kamu ngidam yak ? hehehe.” candaku.
“enak ajah, pesenan adek aku nih.” jawabnya.
“ohh adek kamu yang ngidam ? hehehe.” candaku lagi.
“buat rujak tau, bedon nih kamu, hehehe.” Katanya sambil tersenyum


Setelah sampai di toko buah…

“bang mangga yang buat rujak yang mana ?” kata Devy.
“yang ini juga bisa neng.” Kata penjual buah sambil menunjuk kumpulan buah mangga.
“ini mangga Manalagi neng.”jawab si penjual buah.
“Manalagi ?” tanya Devy heran.
“adanya cuma itu Dev, jangan cari yang lain-lain.” candaku.
“siapa juga nyari yang lain-lain.” jawabnya setengah kesal.
“di belakang rumah aku ada pohon mangga, ntar aku ambilin deh.” kataku.
“bener yah ?” jawabnya semangat.
“iyaa Deviiiii.” balasku meyakinkannya.
“yaudah bang mangganya yang tadi setengah kilo yak !” katanya.
“buat apaan mangganya ?”tanyaku heran setengah berbisik.
“gak enak udah nanya gak beli, hehehe.”bisiknya ditelingaku.
“wuuu dasaaaarrr !!” teriakku sambil mengacak-acak rambutnya.

Setelah membayar mangga yang di belinya kamipun pulang, sebelum kerumah ku aku pergi ke masjid memberikan kue untuk buka puasa orang-orang yang berbuka di masjid, setelah selesai kamipun menuju rumahku untuk mengambil mangga yang terletak di belakang rumahku, pohon mangga yang besar dan saking rindangnya daun-daun pohonya melewati rumah tetanggaku, jadi jika ada mangga yang sudah matang tetanggaku bisa saja mengambilnya.

“ibuuuuu ! aku mau ngambil mangga nih !” teriakku.
“ambil ajah dibelakang, cari sendiri yang udah mateng,” jawab ibuku setengah teriak.
“loh orang buat ngerujak masa yang udah mateng.” kataku.

Ibuku berjalan ke belakang rumah…
“siapa yang mau ngerujak Satria ?” kata ibuku kemudian melihat seorang gadis.
“ehh ada tamu toh.” sapa ibuku.
“i-iyaa tante.” Jawab Devy.
“temennya sekolahnya Satria ya ? namanya siapa ” tanya ibuku.
“Devy tante, saya bukan temen sekolahnya Satria tapi temen lesnya dulu waktu SMP di tempatnya tante Tami.” jawab Devy.
“ohh ini temen kamu yang kamu certain itu Satria ?” kata ibuku setengah teriak.


Sementara aku di atas pohon mangga…
“waduhh semutnya rese banget sih, gak disekolahin lu yak ? gangguin orang ajah !” gerutuku.
“Satria ati-ati !” seru Devy padaku.
“hemm… padahal kalo tante suruh ngambilin mangga naik ke atas pohon Satria gak pernah mau, tapi sekarang semangat banget, banyak semut juga tuh padahal tapi di tahan-tahan, ada Devy sih.” Ledek ibuku.
“apaan sih bu !” jawab ku menahan malu.
Devy hanya tersenyum sambil memamandangku dari bawah.
“lain kali kalo nyuruh Satria ngambil mangga kayaknya minta tolong Devy dulu nih.” Ledek ibuku.
“iyaa tante gampang itu, biar Satria disemutin yaa, hehehe.” canda Devy.
“gak lagi-lagi deh aku naek pohon mangga !” jawabku.
“udah Sat, mangganya banyak banget nih.” kata Devy.
“yaudah gak apa-apa, buat besok-besok ngerujak, hehehe.” candaku.

Kemudian aku turun dari pohon mangga dengan baju ditempeli oleh getah pohon mangga yang di penuhi semut rang-rang manah gede-gede lagi. Setelah selesai memetik mangga untuk Devy, akhirnya dia berpamitan untuk pulang karena hari sudah sore dan sebentar lagi adzan magrib.
“ saya pulang dulu yaa tante, makasih mangganya.” Kata Devy.
“iyaa sama-sama, nanti rujaknya dikirim yaa,” canda ibuku
“iyaa kalo sempet yaa tante, hehehe.” Jawab Devy.


Devy pun pulang kerumahnya…

Setelah kejadian itu kami berdua menjadi labih akrab dan sering pergi berangkat sekolah bareng. Karena sekolah kami berbeda, kami berpisah di sebuah jalan kecil. Kami jadi sering bertemu dan sesekali belajar bersama karena kebetulan jurusan yang kami pelajari sama yaitu IPA. Pada saat belajar bersama itu kami jadi sering memanggil satu sama lain dengan sebutan “sayang”, padahal aku dan dia sama sekali tidak pacaran.

Suatu hari aku tanyakan tentang statusku dengan dia. Apa sebenarnya hubungan ini terasa sangat aneh bagiku, aku tau kami saling menyayangi tapi aku bukan pacarnya, suatu perasaan yang mengganjal ada padaku. Setelah ku tanya pada Devy, dia memang sayang padaku tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk fokus belajar karena sekarang sudah kelas XII dan tidak ingin pacaran lagipula orang tuanya tidak mengijinkannya pacaran, sehingga dia ingin hubugan ini disebut HTS ( Hubungan Tanpa Status ), bahasa gaulnya sih gitu. Seperti orang pacaran tapi statusnya BUKAN PACAR.

Semua kejadian yang terjadi padaku tersebut tentu saja kuceritakan pada sahabatku Asta, dan tentunya beberapa teman yang aku percaya. Beberapa teman mendesakku agar mengungkapkan dan meyakinkan Devy sekali lagi dan berharap agar status kami jelas yaitu PACARAN, termasuk sahabatku Asta. Tentunya dia paling semangat menyuruhku untuk pacaran dengan Devy, karena dia juga baru saja punya pacar baru. Akhirnya aku tanyakan kepada Devy sekaligus meyakinkannya untuk percaya padaku dan kita akan saling mendukung untuk urusan sekolah dan hubungan ini tidak akan menggangu kegiatan belajar sedangkan urusan orang tua aku mengajaknya untuk “backstreet”. Setelah aku meyakinkan dia akhirnya dia setuju.

Hari demi hari di bulan puasa ini aku alami dengan indah, betapa tidak aku punya cewek baru, cantik dan pintar pula, bagai kejatuhan durian runtuh beserta pohonnya. Namun seminggu sebelum lebaran dia akan pulang kampung dan menghabiskan waktu liburan di Surabaya, kampung halamannya. Aku bingung apakah aku bisa bertahan tanpa dia. Namun sebelum berangkat dia ingin menghabiskan 3 hari bersama ku. Aku berniat akan membuat 3 hari itu menjadi sesuatu yang membuat kami saling merindukannya.

Hari pertama aku mengajaknya pergi kerumah Asta, disana juga ada Ryan dan Ferry. Saat itu Devy sedang tidak puasa. Kami disana ngobrol karena kebetulan temen-temanku juga sudah kenal dengan Devy. Kami mengobrol hingga sore hari menjelang buka puasa dan adzan maghrib berkumandang. Keesokan paginya di hari kedua dia memintaku untuk bersepeda onthel, kebetulan aku baru memiliki sepeda onthel yang dibawakan oleh kakek ku dari kampung. Kami bersepeda keliling komplek hingga pergi ke komplek lain, lelah memang karena aku yang menggoes sepedanya sedangkan dia duduk di bangku belakang, aku bonceng. Sesekali setiap melewati pangkalan ojek pasti Devy selalu digoda oleh tukang ojek, tapi aku hanya tertawa di balik tubuhku yang penuh oleh keringat, sesekali dia membasuh keringat yang mengucur di pipiku. Keesokan harinya, ini hari terakhir yang akan aku habiskan sebelum dia pergi. Aku mengajaknya nonton film di bioskop salah satu Mall di daerah Depok. Kami pergi menggunakan motor dia karena saat itu dia sedang bolos les di sebuah bimbingan belajar karena dia sedang malas dan bolosnyapun sudah direncanakan sebelumnya, hehehe. Kami memasuki Mall tersebut dan langsung menuju bioskop yang terdapat disana, setelah aku membayar tiket kami langsung masuk ke studio2, karena kebetulan filmnya langsung main. Ternyata film yang kami tonton adalah film horror, tapi kami bukan ketakutan malah tertawa karena celetukanku mengomentari film tersebut, sesakali dia mencubitku sambil menahan tawa, karena kebetulan yang nonton orangnya sedikit dan tidak penuh.
Setelah selesai nonton kami berjalan menuju sebuah Food Court untuk duduk-duduk sambil ngobrol dan berfoto, salah satu foto kami masih tersimpan baik di handphone ku. Selesai ngobrol kami langsung pulang.

Ternyata saat diperjalanan hujanpun turun dengan derasnya, dan waktu telah menunjukan pukul 19.00 WIB. Aku bertanya padanya…
“sayang… kamu mau neduh gak ?” tanyaku setengah menggigil.
“terserah kamu ajah yang…” jawabnya pelan.
“kok terserah aku ? kamu maunya gimana ?” tanyaku sekali lagi.
“udah basah gini… lanjut ajah yaa, hehehe,” jawabnya kedinginan.
“yaudah…takut kamu kemaleman.” kataku.
Aku pun menggas motornya dengan agak cepat.
Dia memelukku dengan pelukan yang cukup erat dan kepalanya menyandar pada punggung kiriku, aku sadar dia kedinginan, tapi kemudian…
“Satria…” suaranya memecah derasnya hujan.
“iyaa sayang ?” jawabku.
“aku sayaaaang banget sama kamu.” katanya setengah mengigil sambil memelukku.
“aku juga.” Jawabku singkat karena kedinginan.

Motor pun melaju dengan cepat menuju sebuah komplek dimana tempat kedua remaja yang di mabuk asmara tersebut tinggal.

Hari itu pun tiba, dia pergi meninggalkan aku menuju Surabaya. Hari itu aku hanya bisa melamun tak yakin dengan apa yang terjadi dan tak ingin semuanya terjadi. Dia disana hingga liburan Idul Fitri hampir usai. Namun aku masih sering SMS atau sesekali untuk menelpon dia sekedar menanyakan apa yang sedang dia kerjakan. Saat dia pulang ke rumah pun tiba, namun hingga beberapa hari aku belum juga menemuinya, sampai suatu siang…
Tertulis dalam SMS…
“aku boleh ngomong gak ? tapi kamu jangan marah yak ?” kata Devy.
“ngomong ajah, Insya Allah gak marah, hehehe.” balasku setengah penasaran.
“aku gak bisa ngejalanin ini semua.” terangnya.
“maksud kamu ?” jawabku setengah mengerti maksudnya.
“aku gak bisa nyembunyiin ini semua dari mama aku, aku dicurigain terus, kalo mau kemana-mana pasti dikira mau ketemu cowok, jadi sekarang aku gak boleh kemana-mana.” Jelasnya.


GUUUUBBRRAAAAAAKKSSSS…. !!!!!


Rasanya hatiku seperti jatuh dari ketinggian beribu-ribu meter. Tak terucap sepatah katapun saat aku memandang SMS di handphone ku tersebut.
Aku terdiam, kemudian membalas…
“ohh yaudah, mau gimana lagi aku juga gak bisa ngapa-ngapain, tapi aku akan terus sayang sama kamu.” jawabku.
“aku juga sayang banget sama kamu, maafin aku yaa, makasih karena kamu udah sayang sama aku.” balasnya.
“gak apa-apa, gak ada yang salah dan perlu disalahin, makasih juga karena kamu juga udah sayang sama aku, maaf aku gak bisa kasih kamu apa-apa.” kataku.
“puisi dari kamu masih aku simpen kok.” jawabnya.
“ohh yang itu, dijaga yaa.” kataku.
“pasti.” jawabnya singkat.

Aku sangat berterima kasih padanya, karena dia pernah ada didalam kehidupanku walau sementara tapi mengesankan. Aku tak pernah menyesal menjalani ini semua karena dibalik suatu masalah pasti terdapat hikmah dimana kita bisa mendapatkan yang terbaik.

Kemudian aku menuju komputerku dan membuka sebuah file yang bertuliskan…
“Gadis Cinta”.

Gadis Cinta

Ku ingin pagi datang menyambut
Tuk’ lihat senyumnya yang lembut
Terperanjat dengan lamunan sebuah bayangan . . .
Gadis manis di dalam kabut putih merona
Simpul senyum terikat erat padanya
Gelak tawa memecah kesenduan

Di balik tatapan sejuk menggugah hati
Senyum lembut hanya padanya
Terbesit cinta dalam maya
Mengukir kata untuknya

“aku akan menyayangimu untuk hari ini dan selamanya”

Untukmu ku berikan warna . . .
Warna terindah embun pagi terbias aurora
Dari air mata cinta, suka dan duka
Bukan hanya untuk hari ini
Tapi untuk selamanya . . .

Apapun akan kulakukan hanya untuk selalu bersamamu
Karena kamu . . . Makna hidupku

*catatan : cerpen ini adalah tugas bahasa indonesia di sekolah gua yang ceritanya harus berdasarkan dari kisah nyata yang gua alamin sendiri…

Iklan

7 pemikiran pada “Cerpen gue

  1. Ping balik: Terus Berharap « satria's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s